Pagi tadi ditengah-tengah pergantian pasien, Mbak Tj, dokter anak partner di program khusus tempatku bekerja, tiba-tiba berkata, “Aku mau curhat. Tapi nanti kali deh……kita periksa pasien dulu.”
Maka berlanjutlah kami melakukan skrining pada pasien-pasien yang telah menunggu cukup lama. Maklumlah, dokter yang satu ini sangat teliti dan hati-hati dalam melakukan pemeriksaan dan melakukan judgement. Masukan dan pendapatku sebagai psikolog yang mendampinginya juga dipertimbangkan masak-masak dalam penilaian tumbuh kembang dan pembuatan program.
“Aku kemaren ditegur si Mas Galak itu.” Ujarnya sambil menyebutkan nama seorang dokter senior yang terkenal pedas dalam memberikan pendapat dan komentar. Tampaknya uneg-uneg ini tak dapat ditahan lagi, dan meloncat keluar melawan kata-katanya sendiri yang tadi menyatakan ingin menyelesaikan pemeriksaan pasien dulu.
Akhirnya kutahan masuknya pasien berikut. “Kenapa?” tanyaku.
“Iya. Dia bilang ‘Kamu gimana sih? Pasien kita kok malah dibiarkan di kirim terapi keluar? Psikolog lagi yang ngirim? Gak balik kan
tuh pasien ke programmu?’ gitu.. Mana ternyata tuh pasien masuk di programnya dia juga lagi” Aku terdiam setengah terperanjat saat mendengar ucapannya itu. Dalam menangani pasien dengan berbagai masalah pada usia perkembangan, terapi memang menjadi jalan keluar utama untuk mengatasi masalah tersebut. Program kami sendiri memiliki beberapa terapis dari berbagai disiplin ilmu. Namun tak jarang karena jadwal yang penuh, tempat tinggal yang terlalu jauh, dan ketidaktersediaan jenis terapi tertentu menyebabkan kami mengirim pasien ke tempat layanan terapi lain di luar rumah sakit tempat program ini bernaung.
“Trus, kamu bilang gak bahwa kalau kita mengirim terapi ke tempat lain pasti ada alasan khusus? Trus emang kenapa kalau psikolog yang ngirim?” Emosiku mulai menggelegak mengingat profesiku diusik-usik profesi lain.
“Aku bilang……dan aku jelasin kalo di sini siapapun bisa kirim pasien atas nama tim pemeriksa. Bingung kali dia, soalnya di program dia kan
gak ada model keterpaduan seperti program kita. Udah deh nanti kita lanjutin lagi. Pasien masih banyak nih.” Ujarnya memotong pembicaraan. Entah memang karena ia ingat pada pasien lagi, atau karena ingin meredakanku yang sudah siap meledak…entahlah….
Pasien-demi-pasien bergulir kami evaluasi. Beberapa pasien terpaksa kembali kami kirim terapi keluar rumah sakit, karena jenis terapi yang dibutuhkannya tidak semua tersedia di tempat ini. Sebagai akibatnya ada juga terapi yang kami sediakan terpaksa dijalankan oleh pasien tersebut di luar dengan alasan efisiensi waktu. Itu sudah resiko. Sepanjang hari ini, aku tidak mau menandatangani surat
pengantar terapi keluar. Dengan tersenyum getir Mbak Tj menandatangan semua surat
tersebut.
Pasien terakhir sudah keluar ruangan. Pasien ini berhasil mendapatkan tempat untuk terapi di rumah sakit ini. Pfiuh…Dengan pandangan bertanya aku duduk di hadapan Mbak Tj.
“Aku rasa sebenernya si Mas Galak itu gak bermaksud menyerang kita langsung dengan komentarnya tersebut. Tampaknya dia sedang mengawasi si Terapis Senior” ujar Mbak Tj membuka pembicaraan sembari menyebut nama seorang terapis dari program kami.
“Begitu?” tanyaku
“Iya. Soalnya si Mas Galak bilang gini waktu aku kasih penjelasan tentang kemungkinan jadwal dan tempat di sini penuh ‘Ya emang dia bikin seolah-olah penuh, jadi dia bisa kabur-kaburan ke tempat lain. Ngecek gak kamu?’ Ya aku bilang kalo belum ngecek dan gak tau kalo selama ini terjadi seperti itu”
“Trus?”
“Tadi aku cek, ternyata emang bener. Jadi ternyata si Terapis senior itu ngatur waktunya bukan penuh dia 5 hari ada di sini. Cuma beberapa jam sehari dari 8 jam kerjanya. Malah ada sehari penuh yang dia tidak menyediakan waktu terapi. Waktu aku tanya ke administrasi di mana dia pada jam-jam tidak memberikan terapi, administrasi bilang tidak tahu……Kayaknya mereka tahu sih… tapi yah…… susah deh……”
“Emang ini pasien yang mana sih? Aku kok rasanya gak pernah dapet pasien dari programnya si Mas galak”
“Kayaknya bukan pas hari kita deh. Katanya yang tanda tangan Mbak Lut” kata Mbak Tj menyebut nama seorang psikolog yang juga merupakan anggota program khusus ini.
“Ya udah, mulai sekarang aku gak mau tanda tangan surat
pengantar, ah” kataku
“Yee……kok ngambek. Yang penting mulai sekarang kita hati-hati aja dalam prosedur pengiriman pasien ke luar.” Ujar Mbak Tj seraya kami beranjak keluar.
Aku setengah setuju juga dengan ucapan Mbak Tj ini. Setengahnya lagi aku masih bertahan pada pandanganku bahwa apapun keputusan yang kami ambil selalu berpihak pada kesejahteraan pasien. Kami tidak pernah berpikir mengenai berapa jam terapis anu kerja di rumah sakit ini. Atau apakah ternyata terapis itu bekerja juga di tempat terapi yang kami rujuk. Tidak. Semua semata demi kemajuan pasien.
Mungkin kami salah dalam hal ini. Mungkin seharusnya kami seperti si Mas Galak. Tidak sekadar berpatok pada moralitas dan etika diri sendiri. Mungkin kami harus berpikir bagaimana caranya mempertahankan agar pasien tetap datang ke rumah sakit ini dan tidak ‘lari’ ke tempat layanan-layanan terapi di luar. Mungkin kami harus berpikir juga bagaimana caranya mempertahankan supremasi profesi dokter diantara profesi-profesi lain di rumah sakit ini. Menegakkan kejayaan kontrol dokter terhadap profesi-profesi lain. Entahlah. Yang pasti, selama Mbak Tj, Mbak Lut, Mbak Att, dan dokter-dokter lain dalam program ini masih meminta masukan dariku, dari disiplin ilmuku dan tetap berpegang pada hati nurani serta demi kesejahteraan pasien, aku mungkin masih akan tetap berjalan seperti yang selama ini kami lakukan. Persetan dengan politik kantor. Persetan dengan supremasi profesi. Aku hanya melakukan yang terbaik bagi ‘anak-anak terindah’ yang diciptakan Tuhan yang ditakdirkan hadir dalam dunia kami. Sisanya……terserah!