Mencari Pegawai Angkasa Pura

             Siang tadi aku ngobrol dengan Lla, seorang teman, tentang betapa pentingnya suatu hubungan yang mendatangkan rasa nyaman dan aman pada diri orang-orang yang terlibat di dalamnya.

            “Aku perlu merasa nyaman dan aman untuk jadi diri sendiri dalam sebuah hubungan. Aku perlu sebuah hubungan yang bisa menjadi landasan, biar aku bisa terbang setinggi mungkin untuk pencarian diriku. Tapi juga sebuah landasan yang selalu ada disana untuk aku mendarat saat bensinku sudah habis, tanpa peduli daerah mana saja yang sudah aku jelajahi untuk menemukan diriku, tanpa peduli apakah aku sudah menemukan apa yang kucari” Entah kenapa siang ini aku jadi sok filosofis.

            Saat aku mengandaikan suatu hubungan yang nyaman dengan landasan terbang, entah mengapa tiba tiba terbayang wajah Geng Armani, para pengkritik terkasih dalam hidupku itu. Kalau mereka mendengar pengandaianku itu, mungkin salah satu dari mereka akan berkomentar, “Kalo gitu loe perlu cari jodoh pegawai Angkasa Pura, Ne. Soalnya diantara mereka ada orang-orang yang dilatih untuk menyiapkan landasan terbang sebaik mungkin”

            Jrengjeng!

            Begitulah teman-temanku. Entah mengapa mereka selalu bisa mengembalikan diriku ke kadar humor semula. Ke posisi dimana aku tetap bisa menertawakan diriku. Segetir apa pun ucapan dan perasaanku. Tapi, tentang pegawai Angkasa Pura ini, mungkin gak ada salahnya juga dicoba ya? Siapa tau memang ada diantara mereka yang memang bisa menyiapkan landasan bagiku.

ATR, 29.09.2006, 20.13

Untuk teman-teman sejawat

yang semakin menyadari penurunan fungsi mental diri sendiri

Tentang Pengadilan (Peradilan) Anak

Salah satu berita di detik.com tanggal 24/02/06 berbunyi “Tahan Anak dibawah Umur, Ketua PT Sumut dipanggil MA”. Berita ini menyoroti soal peradilan seorang anak usia 7 atau 8 atau 9 atau 10 tahun (usianya tidak bisa dipastikan karena tidak ada dokumen pasti tentang hal ini. Hello….dimana akte kelahiran??). Namun kemudian ada pernyataan bantahan dari juru bicara MA yang menyatakan bahwa sidang Raju tidak melanggar UU Perlindungan Anak, karena justru usia Raju saat ini adalah 10 tahun 3 bulan (berdasarkan data sekolah, Tanggal lahir Raju adalah 9 Desember 2006. Hellooo…..dimana akte kelahiran?). Dari sini keanehan semakin bertambah. Karena usianya yang sudah diatas 8 tahun maka peradilan terhadap Raju tidak melanggar UU Peradilan Anak. Apa bedanya usia 8 tahun dengan 10 tahun. Apakah 10 tahun berarti sudah dewasa? Seingat saya batasan dewasa sekitar usia 17 – 18 tahun (menurut WHO atau kelurahan)

Saya tidak paham bagaimana isinya UU Peradilan Anak, tapi coba sekarang kita bayangkan. Seorang anak usia 8 tahun, katakanlah ia masuk SD usia 6 tahun, maka saat ini ia duduk di SD Kelas 2. Coba kita ingat lagi ketika kita duduk di kelas 2. Seingat saya, saat itu saya hanya bersekolah 3 – 4 jam sehari. Satu jam pelajaran masih berlangsung sekitar 40 menit. Saya baru mengenal asiknya membaca buku cerita, karena baru bisa bertahan konsetrasi 20-30 menit. Soal keterampilan sosial, jangankan menghadapi persidangan, soal kehilangan pensil kesayangan saja sudah bisa bikin saya menangis histeris. Jelaslah usia ini tidak memungkinkan adanya peradilan.

Kalau demikian, pertanyaan berikutnya adalah “Jadi gak apa-apa dong, kalo Raju diadili. Toh usianya sudah lebih 10 tahun.” Apa iya? Mari kita kembali mengingat-ingat. Katakanlah, ia masuk SD usia 6 tahun, maka saat usia 10 tahun ia sudah duduk di kelas 4. Seingat saya, saat SD kelas 4 saya baru mulai belajar membedakan antara kacang ijo dan kacang kedele (mungkin udah ada yang mulai nyoba bikin toge dari kacang ijo). Lagi sebel-sebelnya ama anak laki-laki yang suka ngintipin warna celana dalem. Sudah tidak menangis lagi sih, kalau kehilangan pensil (soalnya udah mulai pakai pulpen), tapi untuk coba beli minuman di kafe yang ada di hotel aja butuh dorongan ribuan kali (harafiah) dan harus dibekali uang pas (biar gak ada kembalian) baru mau coba jalan ke arah kafe tersebut. So anak usia 10 tahun udah siap disidang? Yang bener aja!!! Berantem aja masih adu mulut dan adu banyakan pendukung (terutama anak perempuan) gimana mau ngadapen hakim dan segala perangkat pengadilan sendirian. Yah palingan ditemenin pengcara (tapi pengacara kan bukan temen….)

Ironisnya beberapa minggu sebelum kasus Raju mencuat, saya lagi asik-asiknya mengikuti serial Judging Amy (serial CBS yang diperankan oleh Amy Brenneman) di salah satu saluran televisi kabel, Hallmark Channel. Film seri ini menceritakan keseharian seorang Hakim Pengadilan Keluarga (Family Court) dimana tugas Amy adalah mencari penyelesaian secara hukum segala kasus yang terkait dengan keluarga dan anggota institusi tersebut, salah satunya anak. Tugas Amy tidak mudah, karena memutuskan konsekuensi yang tepat sebagai akibat dari tingkah laku seorang anak adalah hal yang tricky. Namun semua hal itu dijalani Amy dengan satu niatan, menjadikan seorang anak, sebuah keluarga, mengalami suatu pembelajaran dari tiap kasus yang disidangkan. Yang menarik dari pengadilan ini adalah, selain pengadilannya tertutup, adalah suasana sidang yang lebih seperti acara ngobrol-ngobrol. Si terdakwa duduk dalam posisi yang dekat dengan hakim. O iya di sini gak ada istilah terdakwa. Hakimnya tetep pake toga, tapi nada bicaranya yang tidak menghakimi, mungkin menyebabkan orang-orang yang hadir dalam peradilan tersebut tidak sadar dengan toga yang dipakai sang hakim. Berbeda dari kasus Raju yang hakimnya gak pake toga tapi bicara membentak-bentak dengan pilihan kata-kata yang jawabannya hanya ya atau tidak. Kalo kayak gini sih, pake daster juga bisa bikin anak takut. Kalau sudah takut, apa yang didapat selain kepatuhan sesaat. Nantinya, anak-anak seperti ini akan tumbuh dengan nilai “Bila ada kucing, tikus patuh. Bila kucing pergi, tikus bebas berpesta pora”

Padahal semua itu seharusnya tidak susah. Selama kita mau berpihak pada orang yang lemah yang perlu kita bela. Selama kita masih mau mencintai dan berpikir menggunakan hati (gak cuma dengkul atau alat kelamin), semua hal pasti ada jalannya.

Satu lagi hal yang menyedihkan yang menambah deretan masalah yang kita gak tau harus mulai dari mana menyelesaikannya. Indonesia…..Indonesia….. mau jadi apa sih???

Bikin Kue

Salah satu ritual dalam keluarga saya adalah mempersiapkan sendiri berbagai kue dan hidangan untuk lebaran. Kue-kue kering, kacang bawang, dan rendang biasanya sudah disiapkan pada minggu-minggu awal Ramadhan, sementara lauk-pauk disiapkan beberapa hari sebelum Idul Fitri. Ritual yang sama masih terulang pada lebaran tahun ini. Tadinya saya sempat menawarkan untuk membeli saja kue kering yang sudah jadi. Toh saat ini sudah banyak jasa yang menawarkan kue kering yang rasanya cukup enak. Ide saya tersebut ditolak mentah-mentah oleh Ibu dan adik saya. Dalihnya ‘Ah gak berasa lebaran kalo di bulan puasa gak ada bau-bau kue dibakar di oven’. Akhirnya saya menyerah dan mulai menghitung kebutuhan bahan-bahan untuk membuat kue.

Setelah bahan-bahan tersedia, kemudian timbul masalah waktu pembuatannya. Dulu saat kami masih bersekolah, umumnya lIbur lebaran sudah jatuh pada minggu kedua bulan puasa sehingga banyak waktu yang dapat diluangkan. Saat ini saya dan adik sudah bekerja dengan beban tugas yang cukup besar. Aktivitas Ibu saya pada sebuah LSM yang dipimpinnya juga tengah meningkat. Akhirnya diputuskan ‘proyek’ pembuatan kue akan dilakukan pada akhir minggu kedua bulan puasa. Ada tiga kue ‘wajib’ yang biasanya dibikin yaitu, nastar[1], putri salju[2], dan kue havermouth[3]. Pada hari yang telah ditetapkan kami merencanakan maraton membuat ketiga kue tersebut. Soalnya sulit untuk meluangkan waktu lagi.

Setelah adonan kue sudah disiapkan oleh Ibu, biasanya beliau mengharapkan (dengan setengah memaksa) kami untuk membentuk dan membakar kue tersebut sesuai kemauannya. Untuk ketiga kue wajibnya Ibu saya selalu menerapkan bentuk unik yang diturunkan olah Ibunya. Kue putri salju berbentuk seperti bulan sabit, nastar menyerupai miniatur nanas, sementara kue havermouth berbentuk seperti cookies biasa. Semua bentuk itu harus dikerjakan dengan tangan dan tidak boleh menggunakan cetakan. Pada awal pencetakan kue Putri Salju saya sudah memperhitungkan bahwa hal tersebut akan makan waktu lama. Oleh karena itu saya mengusulkan pada Ibu untuk memimipihkan adonan pada loyang dan kemudian mencetaknya dengan cetakan kue dengan harapan dapat memotong waktu pembuatannya. Demikian juga dengan nastar. Biasanya Ibu saya mencetak nastar dengan memilin adonan sehingga menyerupai telur lalu dengan menggunakan gunting kecil Ibu ‘menggunting’ bagian atas adonan kue sehingga menyerupai duri-duri pada buah nanas. Kali ini saya mengusulkan untuk membuatnya berupa bulatan-bulatan saja. Sekali lagi ide saya ditolak. Ketika saya tanyakan alasannya, Ibu saya menjawab, ‘Ini cara yang diajarin Oma ke Mama. Terserah nanti kalian mau ngajarin seperti apa ke anak kalian, tapi Mama akan ngajarin anak Mama seperti Mama diajar Oma’. Membaui awan kekesalan Ibu saya mulai menebal, sayapun memilih diam dan dengan tabah menjalankan kemauannya.

Akhirnya seluruh proses pembuatan kue berakhir menjelang waktu berbuka tiba. Lelah sekali rasanya, tapi menyenangkan dengan segala ‘kekunoan’ tata cara yang diterapkan oleh Ibu saya. Saya bisa membayangkan bagaimana dulu ia dan kelima saudara perempuannya bekerja membantu Oma menyiapkan hidangan di dapur mereka yang besarnya seperti aula sekolah dasar itu. Sekesal dan selelah apapun saya, ternyata proses membuat kue itu mengingatkan saya kembali kepada akar keberadaan saya. Membuat saya merasa menjadi bagian dari sebuah institusi yang bernama keluarga besar. Membalik jejak-jejak ingatan saya pada Oma tercinta yang sudah tiada. Entah kenapa, semua itu bikin saya nyaman dan bahagia. Kelak saat saya punya anak, saya mungkin akan kembali menurunkan ritual yang sama. Mungkin anak saya juga akan menggerutu seperti saya, tapi saya ingin mengajarkannya untuk terikat pada akarnya. Untuk dapat merasakan kebahagiaan dan rasa nyaman seperti yang saya rasakan. Sesuatu yang sulit untuk didapatkan dari kegiatan lainnya. Sesuatu yang jelas tidak dapat dibeli dengan uang.  Lucu juga rasanya kalau diingat kegiatan bikin kue ternyata bisa memenuhi anak tangga ketiga dari hierarki kebutuhannya Maslow, Root and Belongingess. Yah paling gak buat saya.


[1] kue berbahan dasar terigu dengan isi selai nanas

[2] kue berbahan dasar terigu dengan campuran mentega dalam jumlah besar, dilapisi gula halus pada bagian luarnya

[3] kue dengan bahan dasar terigu yang dicampur dengan oatmeal

Pe-eR

Sebagai seorang pelajar, saya sangat membenci PR atau pekerjaan rumah. Sejak SD sampai SMA saya selalu berusaha menghindari PR. Sebisanya, saya berusaha untuk mengerjakan PR di sekolah. Baik pada hari PR tersebut diberikan oleh guru maupun pada hari PR dikumpulkan (kayaknya sih model yang terakhir ini yang ini yang lebih sering.... :D). Pokoknya saat berada di rumah saya gak mau dipusingkan oleh PR. Saat ini saya sudah berstatus sebagai pekerja. baru belakangan ini saya menyadari ternyata pekerjaan saya menuntut saya untuk mengerjakan banyak ’Pe-Er’. Baik sebagai praktisi klinis maupun sebagai dosen, ternyata pekerjaan saya membutuhkan banyak paper work yang tidak mungkin selesai bila dikerjakan di kantor. Walhasil bekerjalah saya di rumah untuk mengerjakan berbagai ’sisa’ tugas tersebut. Tanpa saya sadari sekarang saya malah dengan sukarela melakukan kegiatan yang pada masa sekolah saya hindari mati-matian. Damn!! Yah..... mungkin ini ’harga’ yang harus saya bayar dari kelakuan saya waktu sekolah dulu. Tauk ah..... Got to go.... banyak PR nih....

Demi Anak-anak Terindah

Pagi tadi ditengah-tengah pergantian pasien, Mbak Tj, dokter anak partner di program khusus tempatku bekerja, tiba-tiba berkata, “Aku mau curhat. Tapi nanti kali deh……kita periksa pasien dulu.”

Maka berlanjutlah kami melakukan skrining pada pasien-pasien yang telah menunggu cukup lama. Maklumlah, dokter yang satu ini sangat teliti dan hati-hati dalam melakukan pemeriksaan dan melakukan judgement. Masukan dan pendapatku sebagai psikolog yang mendampinginya juga dipertimbangkan masak-masak dalam penilaian tumbuh kembang dan pembuatan program.

“Aku kemaren ditegur si Mas Galak itu.” Ujarnya sambil menyebutkan nama seorang dokter senior yang terkenal pedas dalam memberikan pendapat dan komentar. Tampaknya uneg-uneg ini tak dapat ditahan lagi, dan meloncat keluar melawan kata-katanya sendiri yang tadi menyatakan ingin menyelesaikan pemeriksaan pasien dulu.

Akhirnya kutahan masuknya pasien berikut. “Kenapa?” tanyaku.

“Iya. Dia bilang ‘Kamu gimana sih? Pasien kita kok malah dibiarkan di kirim terapi keluar? Psikolog lagi yang ngirim? Gak balik

kan

tuh pasien ke programmu?’ gitu.. Mana ternyata tuh pasien masuk di programnya dia juga lagi” Aku terdiam setengah terperanjat saat mendengar ucapannya itu. Dalam menangani pasien dengan berbagai masalah pada usia perkembangan, terapi memang menjadi jalan keluar utama untuk mengatasi masalah tersebut. Program kami sendiri memiliki beberapa terapis dari berbagai disiplin ilmu. Namun tak jarang karena jadwal yang penuh, tempat tinggal yang terlalu jauh, dan ketidaktersediaan jenis terapi tertentu menyebabkan kami mengirim pasien ke tempat layanan terapi lain di luar rumah sakit tempat program ini bernaung.

“Trus, kamu bilang gak bahwa kalau kita mengirim terapi ke tempat lain pasti ada alasan khusus? Trus emang kenapa kalau psikolog yang ngirim?” Emosiku mulai menggelegak mengingat profesiku diusik-usik profesi lain.

“Aku bilang……dan aku jelasin kalo di sini siapapun bisa kirim pasien atas nama tim pemeriksa. Bingung kali dia, soalnya di program dia

kan

gak ada model keterpaduan seperti program kita. Udah deh nanti kita lanjutin lagi. Pasien masih banyak nih.” Ujarnya memotong pembicaraan. Entah memang karena ia ingat pada pasien lagi, atau karena ingin meredakanku yang sudah siap meledak…entahlah….

Pasien-demi-pasien bergulir kami evaluasi. Beberapa pasien terpaksa kembali kami kirim terapi keluar rumah sakit, karena jenis terapi yang dibutuhkannya tidak semua tersedia di tempat ini. Sebagai akibatnya ada juga terapi yang kami sediakan terpaksa dijalankan oleh pasien tersebut di luar dengan alasan efisiensi waktu. Itu sudah resiko. Sepanjang hari ini, aku tidak mau menandatangani

surat

pengantar terapi keluar. Dengan tersenyum getir Mbak Tj menandatangan semua

surat

tersebut.

Pasien terakhir sudah keluar ruangan. Pasien ini berhasil mendapatkan tempat untuk terapi di rumah sakit ini. Pfiuh…Dengan pandangan bertanya aku duduk di hadapan Mbak Tj.

“Aku rasa sebenernya si Mas Galak itu gak bermaksud menyerang kita langsung dengan komentarnya tersebut. Tampaknya dia sedang mengawasi si Terapis Senior” ujar Mbak Tj membuka pembicaraan sembari menyebut nama seorang terapis dari program kami.

“Begitu?” tanyaku

“Iya. Soalnya si Mas Galak bilang gini waktu aku kasih penjelasan tentang kemungkinan jadwal dan tempat di sini penuh ‘Ya emang dia bikin seolah-olah penuh, jadi dia bisa kabur-kaburan ke tempat lain. Ngecek gak kamu?’ Ya aku bilang kalo belum ngecek dan gak tau kalo selama ini terjadi seperti itu”

“Trus?”

“Tadi aku cek, ternyata emang bener. Jadi ternyata si Terapis senior itu ngatur waktunya bukan penuh dia 5 hari ada di sini. Cuma beberapa jam sehari dari 8 jam kerjanya. Malah ada sehari penuh yang dia tidak menyediakan waktu terapi. Waktu aku tanya ke administrasi di mana dia pada jam-jam tidak memberikan terapi, administrasi bilang tidak tahu……Kayaknya mereka tahu sih… tapi yah…… susah deh……”

“Emang ini pasien yang mana sih? Aku kok rasanya gak pernah dapet pasien dari programnya si Mas galak”

“Kayaknya bukan pas hari kita deh. Katanya yang tanda tangan Mbak Lut” kata Mbak Tj menyebut nama seorang psikolog yang juga merupakan anggota program khusus ini.

“Ya udah, mulai sekarang aku gak mau tanda tangan

surat

pengantar, ah” kataku

“Yee……kok ngambek. Yang penting mulai sekarang kita hati-hati aja dalam prosedur pengiriman pasien ke luar.” Ujar Mbak Tj seraya kami beranjak keluar.

Aku setengah setuju juga dengan ucapan Mbak Tj ini. Setengahnya lagi aku masih bertahan pada pandanganku bahwa apapun keputusan yang kami ambil selalu berpihak pada kesejahteraan pasien. Kami tidak pernah berpikir mengenai berapa jam terapis anu kerja di rumah sakit ini. Atau apakah ternyata terapis itu bekerja juga di tempat terapi yang kami rujuk. Tidak. Semua semata demi kemajuan pasien.

Mungkin kami salah dalam hal ini. Mungkin seharusnya kami seperti si Mas Galak. Tidak sekadar berpatok pada moralitas dan etika diri sendiri. Mungkin kami harus berpikir bagaimana caranya mempertahankan agar pasien tetap datang ke rumah sakit ini dan tidak ‘lari’ ke tempat layanan-layanan terapi di luar. Mungkin kami harus berpikir juga bagaimana caranya mempertahankan supremasi profesi dokter diantara profesi-profesi lain di rumah sakit ini. Menegakkan kejayaan kontrol dokter terhadap profesi-profesi lain. Entahlah. Yang pasti, selama Mbak Tj, Mbak Lut, Mbak Att, dan dokter-dokter lain dalam program ini masih meminta masukan dariku, dari disiplin ilmuku dan tetap berpegang pada hati nurani serta demi kesejahteraan pasien, aku mungkin masih akan tetap berjalan seperti yang selama ini kami lakukan. Persetan dengan politik kantor. Persetan dengan supremasi profesi. Aku hanya melakukan yang terbaik bagi ‘anak-anak terindah’ [1] yang diciptakan Tuhan yang ditakdirkan hadir dalam dunia kami.  Sisanya……terserah!


[1] Torey Hayden, sang pakar pendidikan anak-anak dengan kebutuhan khusus menyebutkan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus adalah anak-anak yang indah yang tidak terjamah kerusakan yang dilakukan oleh orang-orang ‘beradab'.

Segala Cara

Seorang teman ibu saya, sebut saja Tante, memberi saya buku memoar Hillary Clinton. Saya gak tahu apa yang Tante ingin saya pelajari dari memoar itu. Terus terang saja, kalo gak dikasi sama Tante mungkin saya gak akan pernah tertarik untuk melirik buku itu. Bahkan sebelum baca buku itu saya udah terbayang akan seorang wanita yang keras hati dalam berusaha untuk mewujudkan segala kemauannya. Tidak peduli apapun komentar dan citra dirinya dimata orang lain di lingkungannya.

Apa memang mungkin harus begitu cara untuk sukses? Mencapai tujuan dengan melakukan segala cara. Mungkin akan tabrak sana, tabrak sini.... tapi... mungkin sesuai dengan tujuan yang dicapai. Soal perasaan yang terluka, tersinggung, ataupun malu.... yah... itulah harga yang harus dibayar...

Kalau memang begitu caranya, saya mungkin tidak akan pernah sukses. Buat saya terlalu mahal kalau sukses harus dibayar pakai hati. Tapi sanggup gak yah saya membayar hati ini atas rasa sakit akibat cara yang dipakai orang lain untuk sukses?

Anne lagi marah.... 'nembakin' amunisi kemana-mana. Ada yang sakit hati? Sori....itu HARGA yang harus SAYA bayar......

pada suatu hari rabu.....

seorang teman, tepatnya teman adik saya hehehe......, pernah berkata bahwa setiap perjumpaan pasti memiliki makna. maka janganlah kita menghindari suatu perjumpaan, sekecil dan sesederhana apapun bentuknya karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dari setiap perjumpaan.

kalau saya ingat kembali, tanda bahwa hari ini akan diisi oleh banyak perjumpaan sudah dimulai dengan datangnya 2 orang asisten dosen yang selama semester lalu banyak membantu saya. cukup mengagetkan memang berjumpa mereka pada musim liburan. dosen saya dulu pernah bilang, ‘mahasiswa itu apa sih maunya? kuliah gak pernah masuk, libur kok malah pada muncul?’ nah kalimat itulah yang muncul di kepala saya saat melihat mereka. saya senang sekali dengan kedatangan mereka. walau baru 2 minggan saya tidak bertemu mereka, rasanya seperti sudah satu semester. saya kangen sekali sama mereka (dan asisten2 lain tentunya hehehe....... takut ada asisten yang marah). hasil dari perjumpaan itu adalah: mereka mengenal lebih jauh seorang dosen tidak tetap yang selama ini hanya mereka lihat mondar-mandir di sekretariat fakultas, saya berhasil menjual beberapa buah barang pencarian dana yang dititipkan oleh ibu saya, dan kita berjanji untuk ketemu kembali beberapa minggu lagi.

sekitar jam 4 sore, g, seorang teman di konfiden menelepon dan menanyakan kapan saya akan mampir ke sekretariat. rencananya saya memang akan kesana hari ini. dia kemudian menawarkan untuk ikut ke sebuah acara yang diadakan di tim dengan iming-iming, ‘ntar gue anterin pulang deh.......' ntah ada dorongan angin darimana, saya setuju untuk ketemu di tim, padahal biasanya saya malas setengah mati hadir di acara yang sebagian besar tamunya tidak saya kenal.

dalam perjalanan ke tim yang macet berat, saya sempat menyesal telah berjanji pada g. terbayang kalau saya langsung pulang ke rumah, saat itu saya pasti sudah dengan tenang berada di kamar dan menamatkan novel thriller yang baru saya beli. untungnya penyesalan itu tidak menyurutkan langkah saya hingga sampai di tim. sesampainya di sana, suasana film gerilya mulai ‘tercium’ sejak saya turun dari taksi. saya baru sadar, ternyata saya kangen dengan ‘bau perjuangan’ itu. rupanya sudah terlalu lama saya tinggalkan dunia ini. memasuki lobi tempat acara berlangsung, poster-poster dan wajah-wajah akrab segera menyapa. tak lama jeritan, teriakan yang diiringi pelukan menghampiri. kadang ada yang berupa tepukan juga sih..... diantara wajah-wajah tersebut terselip seraut wajah teman yang sudah hampir 2 tahun tidak saya jumpai. terakhir kami bertemu di persilangan pendapat dan persimpangan jalan tentang masa depan sebuah cita-cita yang awalnya kami bangun bersama. dengan riang gembira dia mengajak saya menyapa beberapa teman lama yang juga hadir di sana dan....... saya akhirnya bertemu dengan seorang teman yang selama 5 tahun kami berkenalan hanya berhubungan melalui telepon, sms, dan e-mail. wah kalau tadi saya memutuskan untuk tidak datang ke tim berapa tahun lagi yah kami hanya berkomunikasi lewat ‘alam maya?

sesuai janjinya, g mengantar saya pulang ke rumah. sepanjang perjalanan kami saling bercerita tentang kegiatan kami masing-masin selama ini. maklum, kami juga sudah lama tidak berjumpa. saya bercerita tentang segala pelarian dan upaya mempertahankan diri. ia bercerita tentang keluarga kecil yang sedang dibinanya. saat sampai di gerbang rumah, saya baru sadar bahwa saya kangen sekali ngobrol-ngobrol ‘pencerahan’ dengan g. 

sejauh ini teman adik saya betul dengan pendapatnya. kita memang tidak pernah tahu apa yang akan dibawa, dihasilkan, didapat dan terjadi pada suatu perjumpaan. dari perjumpaan yang hanya beberapa jam saja, saya sanggup tersenyum sampai seminggu! jadi teman-teman, baik yang lama maupun yang baru, yang baru limat menit yang lalu ketemu, maupun lima belas tahun yang lalu terakhir ketemu. ketemuan yukkkk...... karena kita gak kan pernah tahu apa yang akan terjadi pada setiap perjumpaan.

29.06.2005

23.05